Mengikuti Jejak Toko BABE (BArang BEkas) di Bandung
Anda pernah ke Bandung? kalo Anda sekarang akan ke Bandung atau sedang di Bandung, jangan lewatkan untuk mengunjungi tempat yang satu ini, yaitu Toko BaBe (Barang Bekas). Barang bekas, rongsokan, barang second, rombeng, re-furbish ternyata tidak selamanya berkonotasi “useless”. Hal ini terjadi di kota Bandung, ada usaha yang tergolong sukses dalam membisniskan barang bekas. Bahkan tokonya terkenal luas hampir keseluruh Bandung, karena diberi nama unik “BABE” (BArang BEkas).
Idenya sebetulnya sederhana, BABE menyediakan tempat berjualan dan sekaligus mengatur penjualan. Adapun supply barang-barang dagangannya sendiri datang dari publik/masyarakat luas. dari mulai sepatu-sandal bekas, arloji, perkakas elektronik, pakaian, alat-alat olah raga, perkakas rumah tangga, alat musik, perlengkapan kantor, sepeda, bahkan hingga mobil bekas pun pernah ada dalam daftar jualan mereka. Promosi usaha nya tergolong aktif, unik dalam inovasi dan kreatif dengan menggunakan beberapa media (seperti iklan di radio, media cetak, promosi on-the road, acara offair, dll).
Mekanisme ringkas managementnya: setiap item barang dari pelanggan yang hendak dititipkan, dikenai fee titipan (misalnya Rp. 2500) untuk masa waktu tertentu penitipan. Hasil penjualan dari setiap barang yang terjual, BABE pun masih memperoleh komisi sekian persen.
Read the rest of this entry
Jeli Melihat Peluang Bisnis Barang Bekas
Barang bekas identik dengan sampah. Namun siapa sangka barang bekas bisa mendatangkan potensi bisnis cukup menggiurkan. Bisnis barang bekas (rongsokan) di Makassar, Sulawesi Selatan, menyerap ratusan karyawan dan beromset jutaan rupiah.
Beberapa pengumpul barang rongsokan saat ditemui di Makassar, Selasa, mengatakan, bisnis tersebut sudah digeluti secara turun-temurun dan mendatangkan keuntungan yang lumayan untuk menghidupi keluarga.
Seorang pengusaha pengumpul barang bekas Basto, Hafifah di jalan Sepakat Makassar, mengatakan, bisnis ini mendatangkan keuntungan bersih sekitar Rp. 30.000.000,- /tahun.
“Saya tidak tahu berapa keuntungan per bulan, tetapi kami hitung setiap akhir tahun saat tutup buku, ada keuntungan bersih sekitar Rp. 30.000.000,-,” kata Hafifah.
Menurut dia, sejak tiga bulan terakhir ia menjual besi bekas ke pabrik baja di Makassar karena harga yang diminta pembeli dari Surabaya dan Jakarta rendah serta biaya pengiriman juga mahal. Read the rest of this entry
Bisnis Barang Bekas, Kenapa Tidak?
Lupakan hingar bingar perpolitikan kita yang tidak jelas juntrungannya, dan berhentilah berharap pemerintah akan membantu perekonomian rakyatnya selagi masih banyak kasus korupsi yang merajalela. Kita masih bisa tetap bangkit di masa ekonomi sulit seperti sekarang ini. Masih banyak peluang usaha yang bisa dikerjakan agar kita tidak berpangku tangan mengharap bantuan dari orang lain.
Salah satunya adalah usaha barang rongsokan atau barang bekas. Tulisan ini terinspirasi dari hasil wawancara saya dengan pelaku usaha barang rongsokan dan barang bekas. Sebut saja pak Sani, kesehariannya dia berdagang bakso pikulan. Pagi hari ke pasar beli daging, trus digiling di tempat penggilingan daging langganannya, untuk kemudian dijual pada siang harinya. Dan tidak sampe sore hari dagangannya biasanya sudah habis.
Pak Sani juga nyambi sebagai tukang pijit, istrinya juga bekerja serabutan terkadang juga jadi tukang pijit khusus wanita. Suatu hari saat memijit saya dia bercerita tentang sepak terjangnya dibisnis barang rongsokan yang menurutnya sangat menguntungkan (meski dia tidak menyebut nominalnya).
Barang2 yang menurut dia sangat tinggi harga jualnya salah satunya adalah besi rongsokan, namun barang tersebut susah didapat. Kemudian disusul plastik dan kertas/koran bekas. Berbeda dengan besi rongsokan, kertas/koran bekas lebih gampang didapatkan mengingat pak sani tinggal dekat dengan lingkungan kampus dan perkantoran serta daerah yang padat penduduk. Sembari menjajakan dagangannya biasanya pak Sani juga menawarkan jasa pembelian barang bekas/rongsokan yang dimiliki warga. Meskipun penghasilannya dari bisnis barang bekas/rongsokan ini lebih besar ketimbang berjualan bakso, pak Sani tetap berjualan bakso seperti biasanya.
Lain lagi dengan tetangga bulik saya di daerah gamping sana, seorang mahasiswa asal cirebon justru menjadikan bisnis besi rongsokan ini sebagai mata pencahariannya, bahkan dia telah memiliki 10 pegawai yang dia pekerjakan untuk membantunya.


